
Pada pagi ini saya kembali termenung. Hal itu bukan disebabkan public figure sexy kita yang kembali bermasalah narsis di hampir semua infotainment, melainkan ada hal lain yang sudah lama saya lupakan kembali lagi. Saya pun kembali teringat celetukan saya kepada ayah semalam,
" Yah, lagi ngapain sih?? Isi TTS ya??" tanya saya sambil memperhatikan kesibukannya.
" Bukan mas, ayah lagi isi sudoku nih di koran " jawab ayah sambil tetap asyik pada kotak isiannya..
Haha,, begitulah ayahku, beliau hobi banget ngisi TTS atau hal apapun yang kebetulan tertera di koran. Akan tetapi satu hal yang saya sayangkan dan saya pun langsung menggoda ayah.
" Hahaha,, keren sih yah. Tapi percuma dong kalo ga pernah dikirim, siapa tau menang yah !! " usul saya sambil memperhatikan kotak sudoku yang diisi ayah ternyata hampir selesai loh..
Tak lama dan akhirnya ayah berhasil menyelesaikan kuis yang iseng - iseng berhadiah tersebut.
"Yak, selesai ! Yaudah besok tolong dikirimin yah mas via pos " jawab ayah.
" Buseet!!! hha,, siip deh yah " saya pun terpaksa menjawab dan berharap besok semoga tidak telat sampai toko ( Distro Sitedel-tempat saya berkerja RED) , karena harus mampir terlebih dahulu ke kantor pos.
Paginya setelah mengecek semua persiapan & hendak berangkat saya pun melihat selembar kartu pos yang telah ditempeli kupon serta perangko dan siap dibuang!! Maksud saya dikirimkan, hahaha..
Bukan tanpa alasan juga, alhamdulillah kalo kata beberapa orang saya termasuk yang hoki dalam setiap undian. Sejak kecil saya sangat suka menjawab kuis baik itu di tabloid, majalah maupun tv dan persentase kemenangannya sekitar 50% !! Baik hadiah yang berupa merchandise, voucher, tiket nonton hingga sepeda motor pernah saya taklukkan sehingga track record sebagai seorang pemburu undian pun tak diragukan.
Saya pun segera membawa kartu pos itu dan melaju dengan si Bearu singkatan dari motor Beat Biru. Tak berapa lama kemudian saya pun tiba di sebuah kantor pos yang searah dengan rute petualangan saya mencari sebulan gaji. Sesampainya disana saya melihat kerumunan siswa - siswi sekolah dasar yang sedang berkumpul. Mereka didampingi oleh beberapa guru yang sibuk mengawasi dan mengarahkan murid - muridnya agar sesuai skema mereka yaitu Sopan-Patuh dan tidak membuat kekacauan di tempat umum, hahaha maklumlah rata - rata kalo saya perhatikan mereka baru menginjak tangga satu Sekolah Dasar.
Saya pun memperhatikan gerombolan kurcaci berseragam putih merah itu riang berbaris menunggu giliran untuk memposkan surat mereka. Ternyata mereka sedang diberikan pengenalan oleh gurunya bagaimana cara berkirim surat yang baik dan benar. Saya pun sejenak kembali teringat akan masa - masa saya kecil dimana surat - menyurat masih menjadi suatu hal yang difavorit serta diandalkan masyarakat. Dulu saya sama senangnya seperti bocah - bocah itu ketika berhasil mengirimkan surat pertama saya. Surat itu saya tujukan untuk nenek saya di kampung, padahal nenek saya ada di Jakarta loh ! Tapi dasar bocah kacang ijo yang ngeyel dan semaunya biar lebih dramatis biar dikirimnya ke nenek di kampung saja. Akan tetapi Pak Pos dengan sabarnya melayani keluguan saya dan teman i teman sehingga itu merupakan suatu pengalaman yang berkesan bagi kami.
Hal ini juga yang mungkin sednag dirasakan oleh adik - adik kecil ini. Mereka tertawa, malu - malu bahkan ada yang ingin melakukan hal serupa berulang kali dengan kembali ke antrian yang sekarang sudah terkumpul lebih dari 7 kurcaci yang dapat membuat Snow White skor jantung.
Hmmm...
Kalo dipikir sudah lama sekali saya melupakan berkirim surat lewat pos. Dulu saya hampir tiap minggu mengirim baik itu surat, kuis, dan lain - lain. Akan tetapi, seiring perkembangan teknologi yang tak bisa kita salahkan, sms, email bahkan situs - situs jejaring sosial seperti facebook, twitter dan beraneka ria lainnya membuat peran surat mulai terlupakan. Memang dengan adanya perkembangan teknologi, kita jadi lebih mudah berbagi informasi dan hal lainnya.
Namun, setiap hal pasti memiliki kelebihan & kekurangan ( seperti kata Bunda Dorce ) . Surat - menyurat tanpa kita sadari melatih kita untuk menulis dengan baik dan benar serta sepenuh hati. Tak seperti situs jejaring sosial yang addictnya bisa membuat autis, berkirim surat melalui pos justru menambah kecintaan kita terhadap menulis. Hal itu pun saya rasakan pagi ini ketika mampir di kantor pos ini. Berbagai sapaan ramah, tawa riang, antrian yang rapi serta petugas yang cekatan dalam melayani kita takkan dapat kita jumpai di pangkalan manapun dunia maya yang hanya menawarkan komunikasi semu pada penggunanya.
Akhirnya tibalah giliran saya menyerah kan kartu pos undian itu dan petugas pos tersebut menyapa saya,
" Selamat pagi Pak ! Oh ingin berkirim dengan kartu pos ya, tunggu sebentar ya pak " sahut petugas pos tersebut.
Saya pun menunggu sebentar ketika ia memeriksa kartu pos tersebut yang saya yakin ga mungkin diselipin bom kan sama ayah saya ??? hahahaha....
Setelah selesai memeriksa, ia pun kembali berbicara pada saya,
" Ok pak. Siap untuk dikirim, terima kasih banyak dan selamat beraktivitas !! " sahutnya kembali dengan ramah.
" Iya, terima kasih banyak ya pak " saya pun membalasnya dengan ramah juga.
Saya pun beranjak keluar dari kantor pos tersebut. Dari luar saya amati kantor pos yang sudah lama berdiri namun masih kokoh hingga kini. Saya pun termenung, hmmm.... teknologi yang maju telah membuat kita lupa bahwa kita masih mempunyai kantor pos Indonesia. Walau tak seramai dulu, para petugasnya masih setia berkeja sepenuh hati, walau mungkin gaji mereka tak seberapa, tapi peran dan andil mereka sejak lama yang mengawal berbagai pesan untuk disampaikan sesuai ke tempat tujuan patut kita apresiasi dan tidak dilupakan.
Kini ditengah himpitan teknologi yang semakin canggih, kantor pos tetap beroperasi dan menyediakan layanan bagi para pelanggan setianya. Hal ini merupakan suatu dedikasi akan profesi yang telah mereka gelutii.
Oh Kantor Pos yang kutemukan kembali, semoga kita masih dapat berkirim surat lagi ^^
