
Hidup ini berjalan tiap detiknya,,segala sesuatu yang kita alami baik itu seneng, sedih, susah dan mudah ( duh jadi berantonim bahasa Indonesia) pasti menjadi lebih abadi apabila dikemas menjadi suatu tulisan. Oh iya sekedar berbagi kisah,hhe..sebenernya hobi saya tuh banyak karena saya pada dasarnya tipikal yang selalu senang menekuni berbagai hal, dari sekian banyak salah satunya ialah menulis.
Menulis sebenarnya merupakan salah satu impact dari membaca, coba deh kalo kita suka membaca umumnya kita pasti lebih greget untuk menuangkan berbagai hal apapun yang ada di pikiran kita dalam sebuah tulisan. Kalo orang-orang yang kita baca tulisannya bisa kenapa kita tidak? Hal itu juga yang mungkin disetujui oleh seorang Budiman Hakim. Beliau merupakan salah satu copywriter (kalo di dunia iklan sudah tidak asing lagi ya? hahaha) yang telah malah melingtang di Bumi Pertiwi ini. Saya masih ingat pertama kali membaca tulisan Om Bud, biasa begitu beliau akrab disapa melalui sekumpulan catatan hidupnya yang kebetulan dibukukan menjadi " Sex After Dugem " !!! Mendengar judulnya saja bagi orang kebanyakan pasti sudah berpikir ini buku apaan ya?? Apakah berbau dengan sex setelah dugem?? Hahaha... Hal itu juga yang sering dipusingin sama Om Bud dalam ceritanya perihal judul bukunya tersebut ( Coba deh baca bukunya!! Bantuin promo nih Om Bud ^^ ) . Begitulah juga yang saya alami. Pada awalnya saya pun sempat dibuat bingung ketika melihat buku tersebut anteng di rak salah satu toko buku ternama ibukota. Cover buku tersebut yang aduhai ditambah dengan judulnya yang membuat penasaran membuat saya melihat buku apa sih ini?? Sayangnya semua buku tersebut terlindungi aman dengan plastik hingga barisan terbelakangnya, tak satupun yang sudah sengaja dibuka sebagai sampel sehingga saya pun praktis makin penasaran sama nih buku. Di buku itupun tertulis " Catatan seorang Copywriter ". Dikarenakan saya pada saat itu belum mengenal seluk beluk dunia periklanan saya pun makin dibuat bingung, " Heh !! Copywriter itu apakah orang yang suka ngopi tulisan??? " batin saya kebingungan. Akan tetapi ketika menoleh ke saku simpanan saya (jarang nyimpen uang di dompet lho saya!) hanya terdapat beberapa lapis alat barter pembayaran yang tak cukup bila ditukar dengan buku ini, alhasil saya pun memutuskan pulang dan masih memendam rasa penasaran sama buku tersebut.
Waktu pun berlalu sampai tibalah masa ketika saya ditakdirkan menjadi salah satu mahasiswa periklanan di STIKOM ITKP The School of Advertising, Jakarta. Berbekal pengetahuan yang melompong dari dunia SMA, saya pun perlahan - lahan diisi dan dibuka wawasannya mengenai seluk beluk dunia periklanan. Di sanalah pula saya mulai mengenal perihal copywriter yang merupakan salah satu profesi di dunia iklan bersama dengan art, account executive, media dan lain sebagainya. Copywriter tuh ternyata profesi di dunia iklan yang suka menulis pesan dan dicantumkan dalam sebuah iklan untuk menarik minat yang melihat agar membeli atau menggunakan jasa tersebut, ilmunya disebut copywriting dan yang terlanjur membuatnya disebut copywriter. Contohnya masih ingat sama iklan produk Kit-Kat?? Tagline Ada Break, Ada Kit-Kat! merupakan kerjaan orang - orang copy. Saya pun meski sedari kecil hobi menggambar ga tau kenapa lebih tertarik mendalami profesi sebagai copy bukannya art yang sama - sama tergabung dalam Departemen Kreatif dalam iklan. Kalo ditanya kalo udah lulus kuliah mau jadi apa? Saya pun mantap menjawab ingin menjadi seorang Copywriter.
Pada suatu hari ketika saya sedang duduk anteng di lobby kampus, saya mendapati temen saya lagi memegang sebuah buku yang tak asing lagi dan saya ingat betul wujudnya. Saya pun lantas menghampiri teman saya yang bernama Diti.
" Dit, itu buku iklan ya??" Saya dengan sok tau memulai percakapan.
" Eh Duta,," sapanya. " Ia Dut, ini buku iklan, kenapa? " lanjutnya bertanya balik pada saya.
" Isinya gimana sih Dit?? " tanya saya.
Mendengar pertanyaan saya Diti pun terdiam sejenak kemudian dengan semangat menggebu ia berbicara pada saya.
" Wah lo belum baca Dut??? Aseli lo harus baca buku ini!! Buku ini gokill (bukan pergi membunuh ya..) abis!! Apalagi yang nulis itu Budiman Hakim" cecer kalimatnya menjawab pertanyaan saya.
" Haaa Budiman Hakim?? " Orang ini nih yang katanya juga copywriter handal dan saya sering mendengar namanya, batin saya.
Sejurus kemudian saya pun meminjam buku tersebut dari Diti dan ia pun mengizinkan saya dengan cepatnya seraya kasihan juga belum pernah membaca buku tersebut.
Selanjutnya tak butuh waktu lama bagi saya untuk melahap habis isi buku tesebut, tutur kata dan pengemasan kosakata oleh seorang Budiman Hakim membuat orang yang membacanya seakan - akan diajak ikut serta dalam pengalaman jenaka, renungan maupun petuah yang dituliskannya. Bahkan orang awam pun yang tak mengerti seluk beluk dunia iklan dapat terenyuh hatinya karena catatan - catatan yang dituliskan beliau mungkin sering luput dari penglihatan kita namun dekat sekali apabila kita cermati sehari - hari, semisal " Tuhan Yang Selalu Online ", maupun " Sex After Dugem " yang diambil dari cerita teman beliau. Adik saya pun, Pandu yang baru duduk di bangku SMA saat itu langsung tertarik membaca buku tersebut, bahkan terkadang saya sampai berebut membaca dengannya..hahahaha..
Hingga suatu hari tibalah saat yang tak mungkin saya lewatkan ketika ada seminar yang membahas mengenai dunia periklanan yang out of the box dan diadakan oleh STIKOM InterStudi. Bagi saya yang menarik bukanlah seminar iklan tersebut, melainkan deretan pembicaranya, karena terselip nama Budiman Hakim yang menurut saya mewakilkan tema out of the box tersebut. Wah tanpa berpikir panjang saya langsung menghubungi teman saya Diti yang kebetulan menjadi Contact Person untuk acara ini. Hal ini tak lain karena Diti yang merupakan mahasiswi baru dikampus saya saat itu merupakan pindahan ekstensi dari Interstudi. Saya pun langsung mengajak Pandu yang tanpa berpikir panjang, lebar dan tinggi langsung menyetujui ajakan saya. Kami pun berdua menghadiri acara tersebut yang juga dimeriahkan oleh seorang Jimi Multhazam yaitu vokalis dari band The Upstairs. Acara yang digelar di aula kampus tersebut yang cukup besar ( agak iri saya kalo dibandingkan dengan kampus saya,haha) berjalan dengan cukup antusias. Di luar aula juga terpampang berbagai hasil karya lomba iklan yang banyak menarik perhatian orang yang berlalu lalang. Akan tetapi satu hal yang saya dan Pandu tunggu tak lain ialah sosok Budiman Hakim yang harus bertanggung jawab terhadap waktu yang dengan relanya banyak kami habiskan akibat terhanyut oleh pilihan kata - kata dalam bukunya. Akhirnya waktu yang dinanti-natikan tiba sesaat setelah Jimi berbagi cerita pengalamannya kepada audience yang hadir tibalah sesosok pria berkumis tebal hadir menyapa kami semua. Pria itulah Budiman Hakim yang meski sudah tak muda tetap stylish dengan penampilannya,, hhaha keren deh Om Bud. Beliau pun membagi kisahnya sebagai seorang copywriter kepada kami semua. Banyak juga pengalaman yang diceritakan beliau yang telah saya ketahui melalui catatan blognya yang telah dibukukan salah satunya melalui buku "Sex After Dugem". Seluruh audience pun seakan diajak menyelami jidup ini lebih dalam melalui tutur kata dan tulisannya. Diputar juga berbagai TVC ( Tv Commercial ) iklan, Print Ad maupun Radio Ad buah karya beliau yang bekerja di biro iklan MACS909 sebagai Executive Creative Director. Hari itu pokoknya saya serasa mendapat semangat lagi dalam menjalani hidup ini, hehehe..
Sampai sekarang saya selalu mencoba menulis dan menyimpannya, baik itu cerpen, puisi dan terkadang saya memposting dalam blog saya, walaupun belum banyak dan masih suka lupa karena rutinitas harian yang terkadang sibuknya melebihi anggota dewan, tapi ketika membaca buku Om Bud saya dapat kembali termotivasi untuk menulis dan ga mau kalah sama beliau yang sedang menyelesaikan penulisan buku kelimanya sekarang ( keempat buku Budiman Hakim yang telah terbit diantaranya ialah : Lanturan Tapi Relevan (Dasar-dasar Kreatif Periklanan), Ngobrolin Iklan Yuuk!!, Sex After Dugem (Catatan Seorang Copywriter) dan si Muka Jelek (Catatan Seorang Copywriter 2) yang masih saya baca karena terlalu sayang menghabiskan halamannya.
Satu kalimat Om Bud yang selalu didengungkan dan merupakan awal dari semangat menulisnya ialah " Sebelum mati buatlah minimal satu buku ", nah kalo amanat ayah Om Bud tersebut sudah berhasil dilaksanakan oleh seorang Budiman Hakim, semoga saya juga dapat menunaikannya nanti. hehehe... Tetap semangat dan terima kasih Om Bud atas motivasi yang diberikan melalui catatan - catatan kopinya ya dan tentunya teman saya Diti yang telah berbaik hati meminjamkan buku " Sex After Dugem " yang telah mewarnai perjalanan hidup saya hingga kini.
MARI SEMANGAT MENULIS YUUK !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar